Syaikh Abu Hamid Al Ghazali mengatakan: “Ketahuilah, bahwa anak merupakan amanat bagi kedua orangtuanya. Hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong kepada apa saja yang disodorkan kepadanya Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan dia akan tumbuh dalam kebaikan dan berbahagialah kedua orang tuanya di dunia dari akherat, juga setiap pendidik dan gurunya. Tapi jika dibiasakan kejelekan dan dibiarkan sebagai mana binatang ternak, niscaya akan menjadi jahat dan binasa. Dosanya pun ditanggung oleh penguru dan walinya. Maka hendaklah ia memelihara mendidik dan membina serta mengajarinya akhlak yang baik, menjaganya dari teman-teman jahat, tidak membiasakannya bersenang-senang dan tidak pula menjadikannya suka kemewahan, sehingga akan menghabiskan umurnya untuk mencari hal tersebut bila dewasa.”
Subhanallah..
“Ketahuilah, bahwa anak merupakan amanat bagi kedua orangtuanya…”
Berapa banyak kita memuji anak2 kita?!! dan kapan terakhir kali kita menghargai semua usaha luar biasa anak kita?!
Kapan terakhir kali kita memujinya dengan tulus?! Tersenyum padanya dengan tulus?! Mengusap dan memeluknya dengan tulus?!!
Dan kapan terakhir kali kita marah padanya?!! Mencacinya?!! Mengasarinya?!! Tidak merasa tersentuh dengan usahanya membuat kita bangga?!
**Relakah Allah Ta’ala saat melihat amanah yang diberikan-Nya disia-siakan oleh orang yang “meminta” amanah itu?!!
“Hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong kepada apa saja yang disodorkan kepadanya Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan dia akan tumbuh dalam kebaikan dan berbahagialah kedua orang tuanya di dunia dari akherat, juga setiap pendidik dan gurunya. Tapi jika dibiasakan kejelekan dan dibiarkan sebagai mana binatang ternak, niscaya akan menjadi jahat dan binasa. Dosanya pun ditanggung oleh pengurus dan walinya”
Sedikit kita merenung: Bahwa Apa yang kita lakukan sekarang, apa yang menjadi karakter kita sekarang adalah cerminan dari pembinaan pendidikan kita sewaktu kecil…
Lalu tanpa sadar, kita terapkan kembali kepada anak-anak kita!! dan ini pun menjadi “dosa keturunan”!!
Kita seorang penakut, bahkan takut untuk mengakui kesalahan, adalah hasil dari binaan sebaktu kecil.. tengok kembali.. saat kita ingin banyak tau, orang tua kita sering menakut2i kita dengan berbagai macam hal… dan saat kita hendak mencoba sesuatu, mereka selalu mengatakan “jangan.. nanti begini..nanti begitu..” kita digembleng menjadi seorang penakut!!!
Atau ketika kita melakukan kesalahan…
mereka tidak memberikan ajaran, tapi mereka memberikan bentakan,hukuman yang kadang tidak pada porsinya!! saat kita salah, mereka marah!! sehingga saat kita melakukan kesalahan lain, kita takut untuk mengakui kesalahan itu, karena kita takut dimarahi..”pemberontakan dari belakang”.. dan ini pun menjadikan kita seperti itu sampai besar!! menjadi orang yang selalu takut mengakui kesalahan, dan melimpahkan kesalahan kepada orang lain!! bahkan kita menjadi seorang manusia yang mencari pembenaran, karena tidak mau mengakui kesalahan!!!
Sekarang, kita berdiri disini, dengan anak-anak kita menatap lugu. Pilihan kita, apakah akan mengulang dosa keturunan itu atau akan merubahnya!!
“Maka hendaklah ia memelihara mendidik dan membina serta mengajarinya akhlak yang baik, menjaganya dari teman-teman jahat, tidak membiasakannya bersenang-senang dan tidak pula menjadikannya suka kemewahan, sehingga akan menghabiskan umurnya untuk mencari hal tersebut bila dewasa.”
Hal terlucu lain yang menarik kita singgung adalah..
Ada orang tua, yang dulu dia benci sekali dengan sistem yang diterapkan keluarganya, yang membaut dia tersiksa dan menjadi pemberontak cilik.. sekarang dia bilang seperti ini..”Dulu, kakek mu, nenek mu, mendidik mama/ papa seperti ini..”..
Yang padahal dihatinya dia mengakui, bahwa dia tidak suka didikan orang tua nya… menggelitiknya!! kenapa dia sekarang lakukan cara itu ada keturunannya sendiri?!!
Jika dulu dia tidak menyukai cara itu di gunakan orang tuanya untuk mendidik dia, kenapa sekarang dia gunakan untuk anaknya?!! yang jelas2 tidak sama sekali memberikan manfaat selain mencetak mental orang2 seperti mereka yang pendendam,tidak sabaran, pemarah,pemuja harta, dst!! apa baiknya?!!
“Kamu cepat besar, sekolah, kuliah yang tinggi, lalu kerja di perusahaan yang mapan, menghasilkan uang banyak, lalu bahagiakan orang tua mu, dan buat kami bangga dengan itu”
Apakah dulu orang tua kita berbicara seperti itu pada kita sebagai anaknya?!! Lalu akan kah kita copy paste dengan kalimat itu untuk anak-anak kita?!
Menjadi orang tua yang menyekolahkan anaknya hanya agar anaknya itu menjadi buruh perusahaan. Sempit sekali bukan?!! Mereka memaknai sekolah untuk menjadi buruh, bukan untuk menjadi Tuan!! Dan mereka juga merasa bangga jika anaknya adalah orang yang ber-uang, meskipun miskin Iman!! Bahkan menggadaikan iman!!.. Mereka tidak bangga jika anaknya itu pintar mengaji, pesantren, dan faham masalah agama, toh mereka bilang jadi ustadz hanya mendapat amplop hajatan saja! Pemikiran yang sangat mudah di tebak…
Orang tua sibuk mempersiapkan dunia bagi anaknya, dan seolah lupa mempersiapkan akhirat bagi mereka!!
Untuk menghadapi dunia, mereka rela menyekolahkan anaknya sampai keluar negeri, tapi untuk menghadapi akhirat mereka bahkan tidak mengajarkan bagaimana itu shalat, membaca al Quran dan berpuasa. Miris. Padahal, dunia ini hanya beberapa tahun saja! Dan kekekalan adalah milik akhirat. Dimana konsep “Qu Anfusakum Wa ahlikum naara” kita sebagai orang tua?!
Untuk hal ini, apa kita harus me-reset perjalanan kita dari awal?!!
Me-reset masa remaja kita
Me-reset masa pencarian pasangan kita
Me-reset masa awal pernikahan kita
Me-reset masa kesiapan dan kehamilan kita?!
Ternyata semua alur kehidupan kita saling berkait dan itu sangat penting. Medidik seorang anak yang shaleh bukanlah dengan system feudal yang biasa kita dapatkan dulu dari orang tua. Islam mengajarkan Tarbiyatul Aulad dengan sangat baik, dan Rosulillah mencontohkannya dengan sempurna bagaimana membangun sekolah cinta di dalam rumah, sehingga mampu mencetak anak didik yang luar biasa, yakni anak yang shaleh dan shalehah!!
Anak selain sebagai penerus keturunan,yang utamanya anak adalah investasi di masa yang akan datang. Do’a anak yang shaleh adalah pahala yang akan terus mengalir tanpa henti. Dia akan menembus langit dan akhirnya sampai kepada kita sebagai orang tua sebelum ataupun sesudah kita meninggal.
Memiliki anak yang shaleh dan shalehah bukanlah angan-angan. Dan mereka bukanlah di dapat dari keturunan semata namun kita sebagai orang tau dapat mencetaknya, mewujudkannya. Ia akan hadir di tengah-tengah kita tiada lain merupakan buah dari usaha yang kita lakukan dalam mendidiknya. Bila kita berkeinginan dan berusaha keras mendidik anak agar menjadi anak yang shaleh, maka ia akan tumbuh sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tetapi jika tidak, keinginan untuk memiliki anak shaleh hanyalah sebuah angan-angan dan hayalan semata.
Bercermin dari sekolah cinta yang di bangun Rosulillah didalam rumahnya, ini bisa menjadi jalan kita untuk membuktikan jargon “membentuk generasi Rabbani”.. bagaimanakah Tarbiayul Aulad yang ada dalam Islam itu?
Pertama adalah dengan Keteladanan. Keluarga, khususnya orang tua adalah figur awal bagi seorang anak untuk diikuti dan dicontoh perilakunya. Ketika anak mulai beranjak remaja, fungsi ini mulai bergeser kepada kelompok sebaya-nya ataupun figur-figur lain di luar keluarga, seperti tokoh-tokoh dalam film atau cerita. Oleh karena itu, sudah seharusnya orang tua dapat memberikan pondasi awal yang kuat tentang sikap dan perilaku yang positif. Dengan demikian kelak ketika anak dihadapkan kepada situasi yang sangat kompleks, anak akan lebih siap dan konsisten terhadap pendiriannya.
Agar tujuan ini terwujud, maka tentunya harus ada keteladanan dari orang tua. Ingatlah suatu perbuatan orang tua tidak akan efektif bila hanya terjadi komunikasi satu arah. Berilah contoh yang kepada anak mengenai perilaku yang baik dari orang tua mereka sehari-hari. Ini bisa dimulai dengan hal-hal yang biasa sehari-hari kita lakukan di rumah. Dengan begitu, kedepan diharapkan anak akan dapat mulai sedikit demi sedikit mencontoh perilaku yang positif dari orang tuanya.
Yang kedua adalah Pembiasaan. Setelah adanya contoh yang baik dari orang tua, maka perlu dilakukan pembiasaan dari perilaku-perilaku yang telah dilakukan tadi. Hal ini penting karena dihawatirkan bila orang tua saat tak ada disisi mereka, perilaku-perilaku yang anak lakukan akan dapat berubah kembali. Dengan adanya pembiasaan, maka perilaku positif tersebut akan menjadi tabiat positif anak sehingga ada atau tidak ada orang tua, hal-hal positif tetap mereka lakukan.
Yang ketiga adalah Nasihat.Dikala proses diatas berlangsung, orang tua juga harus senantiasa memberikan pengertian-pengertian ataupun pemahaman-pemahaman kepada anak mengapa suatu perilaku itu harus dilakukan, apa manfaatnya, baik untuk diri sendiri dan yang terpenting untuk orang lain.
Yang ke empat adalah Kontrol. Setelah langkah-langkah di atas berjalan dengan baik, maka selanjutnya adalah kontrol dari orang tua. Dalam pelaksanaannya, kontrol yang dilakukan mesti dijalankan secara arif dan bijaksana, tidak dengan membuat posisi anak menjadi tersudut, sehingga kontrol justru tidak menjadi efektif.
Yang terakhir adalah Reward and Punishment. Di samping poin-poin di atas, tips kelima ini juga tak kalah pentingnya untuk menumbuhkan minat dan tanggung jawab pada anak.Banyak sekali bentuk reward, bisa dengan cara apa pun, sebagai apresiasi kita kepada suatu tindakan yang baik dari seseorang, terlebih anak-anak. dan diantara reward yang memiliki dampak luar biasa itu adalah…
Reward dengan Lisan, yakni PUJIAN. Satu hal yang kadang susah untuk kita lakukan. Namun sebenarnya sangat memiliki daya ubah luar biasa bagi siapa pun yang menerimanya. Pujian memiliki kekuatan positif yang menakjubkan.Kadang kita melihat apa yang dilakukan oleh anak kita, kita pandang dengan kaca mata kita sebagai orang yang sudah ‘besar’..sehingga apa pun yang di lakukan oleh anak kita tampak biasa-biasa saja, bahwa mudah bagi kita untuk melakukan yang mereka bisa tersebut. Nah disini, letak yang harus di gesernya, bahwa jangna memandang apa yang anak-anak kita lakukan dengan kacamata kita sebagai orang yang lebih mampu melakukannya, tapi pandang dari kaca mata jika kita seperti mereka, maka melakukan sesuatu yang baru dan menyelesaikannya dengan baik itu adalah hal yang luar biasa!! sehingga yang akan terjadi adalah sebuah pujian kekaguman yang tulus.
**sebagai orang tua, kumpulkan dari sekarang point pujian anda pada anak2 anda, jangan sampai kurang.. hargai apa pun yang anak ada lakukan, dan berilah solusi yang yang membangun dengan cara yang baik.. tak ada salahnya menjadi teman lab,sahabat ngeceng,karib mengaji,guru sekolah, ustadz rumah, plus bodyguard yang menyenangkan!!
Hal yang kedua dari point terakhir sebagai aksi orang tua terhadap tingkah laku anaknya adalah, hukuman.
Namun dari pada itu, sebelumnya harus dingat oleh para orang tua bahwa pemberian hukuman kepada anak dimaksudkan untuk mendidik anak bukan untuk menyudutkan apalagi melukai fisik.Hukuman yang diberikan tidak hanya semata-mata berbentuk fisik, tetapi juga bisa dilakukan hal-hal lain seperti dengan pengurangan hak, atau pemberian suatu tugas tambahan. Andaikata hukuman fisik terpaksa diberikan, maka harus diperhatikan bahwa cubitan kecil ataupun pukulan ringan bisa bisa diberikan dengan syarat: tidak boleh di bagian-bagian vital anak, tidak boleh pada bagian atas tubuh(perut, dada, leher, kepala, punggung) dan tidak boleh meninggalkan bekas..
Inilah tarbiyatul aulad dalam Islam.
Semoga bermanfaat bagi siapapun yang telah memiliki anak, dan yang akan memiliki “anak”..
Jadikalah cinta yang ada di hati anak-anak kita adalah cinta yang disertai akhlak mulia yang baik dan utama yang lahir dari didikan seorang yang berakhlak mulia pula, dengan cara-cara yang ahsan.
Allahu A’lam
Terinspirasi oleh: Seorang wanita yang siap menjadi seorang ibu muda dengan Ilmu yang dimilikinya, dan pengajar yang mendedikasikan dirinya hanya untuk mendidik generasi muda, anak-anak menjadi generasi terbaik!!
Sumber bacaan:
Dr. Nizar Abazhah.Sekolah Cinta Rosulillah. Zaman. Jakarta. 2009.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar