Kamis, 15 September 2011

MENDIDIK ANAK DENGAN HATI Rio Hu Abuna Nazwah


“ Hai orang-orang yang beriman berdzikirlah ( dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya “. (QS.Al-Ahzab: 41)
“ perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berzikir kepada-Nya, seperti orang hidup dan mati “. ( HR.Al-Bukhari )
Potongan ayat dan kutipan hadits diatas bukanlah tanpa sebab saya tuliskan, namun dimaksud untuk mengingatkan bahwa setiap jengkal dari apa yang kita lakukan mulai dari bangun tidur sampai kita tidur kembali, hendaklah dilakukan dengan berdzikr dan diniatkan karena Allah aza wa Jalah. Dengan mengingat ( Dzikir ) Allah maka semua urusan kita insya Allah akan dimudahkan. Begitu juga kaitannya dengan mendidik.
Mendidik merupakan sunahtullah yang harus kita jalani, baik mendidik anak sendiri, mendidik murid, maupun mendidik diri kita sendiri. Mendidik anak dengan hati merupakan keniscayaan yang pasti, dimana seorang guru harus menselaraskan antara hati dan intelektualnya, ini yang dinamakan oleh para pakar ilmu psikologi sebagai emosional inteligent dan inteligent quetion.
Keberhasilan dalam mendidik, khususnya di Sekolah maupun dirumah tidak hanya ditentukan oleh kemahiran guru/ orangtua dalam mengajar. Namun lebih kepada bagaimana ia mendidik para siswanya/ anaknya. Jadi sangat mungkin bila dalam mendidik anak, seorang guru mampu memadukan antara kecerdasan emosi dan kecerdasan intelektualnya.
Tugas guru amatlah berat, kendati harus mengajar bagaimana sebuah rumus bisa seperti itu atau bagaimana sebuah bilangan dapat dikalikan dengan kombinasi-kombinasinya, juga menjelaskan apa yang dimaksudkan dengan fotosintesis dari tumbuhan serta membuat suatu tugas diskusi kelompok tentang sebuah organisasi-organisasi yang ada baik di masyarakat, lingkungan sekolah, sampai kepada tingkat atas yakni Negara. Tugas guru juga mendidik murid-muridnya agar dapat menjadi anak-anak yang berakhlakul kharima. Kegiatan mendidik lebih kepada proses bagaimana menyadarkan peserta didik dapat mengubah dirinya menjadi manusia seutuhnya, baik secara intelektual, spiritual, moral dan sosial. Penyadaran itu tidak bisa dilakukan melalui pengajaran saja, tetapi terutama lewat pendidikan di mana prinsip keteladanan dari sang guru diberlakukan. Tanpa sebuah keteladanan (melalui kata maupun tindakan) yang baik, seorang siswa yang nakal akan tetap menjadi nakal, bahkan mungkin akan semakin nakal.
Guru yang baik adalah seseorang yang bisa mengajar sekaligus bisa mendidik para siswanya. Dengan kemampuannya untuk mengajar dan mendidik secara baik, akan dihasilkan anak-anak yang tidak hanya pandai secara intelektual, namun juga secara akhlak dan keimanan. Pada akhirnya akan menghasilkan generasi penerus yang arif dan bijaksana. Berkaitan dengan pembentukan kepribadian anak didik, maka “Mendidik Anak Dengan Hati” juga harus merupakan usaha untuk memberikan motivasi kepada anak didik agar terjadi proses internalisasi nilai-nilai pada dirinya, sehingga akan lahir suatu sikap yang rabbani.
Metode mendidik anak sepatutnya mencontoh Tauladan kita yakni Rasulullah SAW. Yang sebelumnya menggunakan bahasa perintah, larangan dan ancaman dalam memberikan nasehat menjadi bahasa yang baik, santun dan menyejukkan yaitu bahasa hati. Merujuk Qur’an surat An Nahl (16) ayat 125, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…,” Sampaikan nasehat pada saat yang benar-benar tepat, bukan pada saat anak melakukan kesalahan dan kita sedang dikuasai amarah. Ketika anak melakukan kesalahan cukuplah dengan membantunya memperbaiki kesalahannya. Adapun waktu yang tepat dalam menyampaikan nasehat adalah saat kondisi atau emosi anak sedang stabil.
Mendidik merupakan amal ibadah yang mendapatkan pahala disisi Allah SWT, jadikan kegiatan mendidik sebagai suatu kegiatan yang disenangi dan menyenangi. Jangan jadikan profesi ini sebagai beban yang melelahkan. Lepaskanlah beban yang ada dipundak, tersenyumlah manakalah pedih itu datang, gembiralah tatkalah gundah-gulanda mengelayuti seluruh jiwa kita. Hadapi masa depan yang cemerlang, karena hanya guru atau orangtua yang berjiwa satria akan mendapati murid-muridnya ataupun anak-anaknya menjadi jiwa-jiwa Satria juga. Mereka tidak akan pantang menyerah, dan akan selalu berusaha menapaki kehidupan ini dengan penuh optimis, karena mereka selalu mentauladani para pendidiknya yang berjiwa kesatria ....
Seperti firman Allah: “Barang siapa menghendaki kesenangan dunia (dengan amalnya), maka Kamipun memenuhinya di dunia, apa yang Kami kehendaki bagi keinginannya, kemudian Kami masukkan dia ke neraka, keadaannya sangat hina dan terusir ( jauh dari rahmadNya)”. (Al-Isra-k 18), “Dan barang siapa menghendaki kesenangan di akherat (dari pahala amalnya) degan sepenuh hati melakukannya secra ikhlas dan beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya diterima (amalnya memperoleh pahala)”. (Al-Isra-k 19).
“Didiklah anak-anak kalian pada tiga hal: mencintai Nabi, mencintai keluarganya, dan membaca Al-Quran”. (HR. Thabrani). Mari kita mulai mendidik anak dengan hati. Satukan hati kita dan anak didik kita dengan menulis surat yang berisi pesan dan nasehat kebaikan. Insya Allah ini merupakan metode yang menyenangkan serta menarik dan berkesan bagi orangtua ataupun pendidik dan anak. Tanyakan apa yang menjadi keluhan mereka, berilah dukungan moril atas kesuksesan dan kekalahan mereka.....
J I K A A N A K …
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah
Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar kedengkian
Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai
Jika anak dibesarkan dengan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri
Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan
Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran

Jakarta, 19 Mei 2011


Rio Hu Abuna Nazwah
Mr_Sundang@yahoo.com. 021-93293309/ 082113422965

Tidak ada komentar:

Posting Komentar