Senin, 19 September 2011

Memahami Kepribadian Ganda Yang Kompleks !


Mungkin tidak ada orang yang benar-benar bisa memahami masalah kepribadian ganda. Sebelum abad ke-20, gejala psikologi ini selalu dikaitkan dengan kerasukan setan. Namun, para psikolog abad ke-20 yang menolak kaitan itu menyebut fenomena ini dengan sebutan Multiple Personality Disorder (MPD). Berikutnya, ketika nama itu dirasa tidak lagi sesuai, gejala ini diberi nama baru, Dissociative Identity Disorder (DID). DID atau kepribadian ganda dapat didefinisikan sebagai kelainan mental dimana seseorang yang mengidapnya akan menunjukkan adanya dua atau lebih kepribadian (alter) yang masing-masing memiliki nama dan karakter yang berbeda. Mereka yang memiliki kelainan ini sebenarnya hanya memiliki satu kepribadian, namun si penderita akan merasa kalau ia memiliki banyak identitas yang memiliki cara berpikir, temperamen, tata bahasa, ingatan dan interaksi terhadap lingkungan yang berbeda-beda. Walaupun penyebabnya tidak bisa dipastikan, namun rata-rata para psikolog sepakat kalau penyebab kelainan ini pada umumnya adalah karena trauma masa kecil. Untuk memahami bagaimana banyak identitas bisa terbentuk di dalam diri seseorang, maka terlebih dahulu kita harus memahami arti dari Dissociative (disosiasi).

Disosiasi
Pernahkah kalian mendapatkan pengalaman seperti ini: Ketika sedang bertanya mengenai sesuatu hal kepada sahabat kalian, kalian malah mendapatkan jawaban yang tidak berhubungan sama sekali.
Jika pernah, maka saya yakin, ketika mendapatkan jawaban itu, kalian akan berkata "Nggak nyambung!".
Disosiasi secara sederhana dapat diartikan sebagai terputusnya hubungan antara pikiran, perasaan, tindakan dan rasa seseorang dengan kesadaran atau situasi yang sedang berlangsung.
Dalam kasus DID, juga terjadi disosiasi, namun jauh lebih rumit dibanding sekedar "nggak nyambung".
Proses terbentuknya kepribadian ganda Ketika kita dewasa, kita memiliki karakter dan kepribadian yang cukup kuat dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan. Namun, pada anak yang masih berusia di bawah tujuh tahun, kekuatan itu belum muncul sehingga mereka akan mencari cara lain untuk bertahan terhadap sebuah pengalaman traumatis, yaitu dengan Disosiasi. Dengan menggunakan cara ini, seorang anak dapat membuat pikiran sadarnya terlepas dari pengalaman mengerikan yang menimpanya. Menurut Colin Ross yang menulis buku The Osiris Complex (1995), proses disosiasi pada anak yang mengarah kepada kelainan DID terdiri dari dua proses psikologis. Kita akan mengambil contoh pelecehan seksual yang dialami oleh seorang anak perempuan. Proses Pertama: anak perempuan yang berulang-ulang mengalami penganiayaan seksual akan berusaha menyangkal pengalaman ini di dalam pikirannya supaya bisa terbebas dari rasa sakit yang luar biasa. Ia bisa mengalami "out of body experience" yang membuat ia "terlepas" dari tubuhnya dan dari pengalaman traumatis yang sedang berlangsung. Ia mungkin bisa merasakan rohnya melayang hingga ke langit-langit dan membayangkan dirinya sedang melihat kepada anak perempuan lain yang sedang mengalami pelecehan seksual. Dengan kata lain, identitas baru yang berbeda telah muncul.
Proses Kedua, sebuah penghalang memori kemudian dibangun antara anak perempuan itu dengan identitas baru yang telah diciptakan. Sekarang, sebuah kesadaran baru telah terbentuk. Pelecehan seksual tersebut tidak pernah terjadi padanya dan ia tidak bisa mengingat apapun mengenainya.
Apabila pelecehan seksual terus berlanjut, maka proses ini akan terus berulang sehingga ia akan kembali menciptakan banyak identitas baru untuk mengatasinya. Ketika kebiasaan disosiasi ini telah mendarah daging, sang anak juga akan menciptakan identitas baru untuk hal-hal yang tidak berhubungan dengan pengalaman traumatis seperti pergi ke sekolah atau bermain bersama teman.
Salah satu kasus kepribadian ganda yang ternama, yaitu Sybil, disebut memiliki 16 identitas yang berbeda.
Menurut psikolog, jumlah identitas berbeda ini bisa lebih banyak pada beberapa kasus, bahkan hingga mencapai 100. Masing-masing identitas itu memiliki nama, umur, jenis kelamin, ras, gaya, cara berbicara dan karakter yang berbeda. Setiap karakter ini bisa mengambil alih pikiran sang penderita hanya dalam tempo beberapa detik. Proses pengambilalihan ini disebut switching dan biasanya dipicu oleh kondisi stres.

Ciri-ciri pengidap kepribadian ganda Ketika membaca paragraf-paragraf di atas, mungkin kalian segera teringat dengan salah seorang teman sekolah kalian yang suka mengubah-ubah penampilannya. Bagi kalian, sepertinya ia memiliki identitas yang berbeda. Atau mungkin kalian teringat dengan salah seorang teman kalian yang biasa tersenyum, namun secara tiba-tiba bisa dikuasai oleh emosi. Ketika amarahnya meledak, kalian bisa melihat wajahnya tiba-tiba berubah menjadi seperti "serigala". Bagi kalian, sepertinya identitas baru yang penuh amarah telah menguasainya. Apakah mereka pengidap DID? Bagaimana cara kita mengetahuinya? Jawabannya adalah pada identitas yang menyertai perubahan penampilan atau emosi tersebut.

Misalkan teman kalian yang suka mengubah penampilan atau sering mengalami perubahan emosi tersebut bernama Edward. Jika ia mengubah penampilan atau mengalami perubahan emosi dan masih menganggap dirinya sebagai Edward, maka ia bukan penderita DID.

Untuk mengerti lebih dalam bagaimana cara membedakannya, lihat empat ciri di bawah ini. Jika di dalam diri seseorang terdapat empat ciri ini, maka bisa dipastikan kalau ia mengidap DID atau kepribadian ganda.

Ciri-ciri tersebut adalah:

Harus ada dua atau lebih identitas atau kesadaran yang berbeda di dalam diri orang tersebut.
Kepribadian-kepribadian ini secara berulang mengambil alih perilaku orang tersebut (Switching).
Ada ketidakmampuan untuk mengingat informasi penting yang berkenaan dengan dirinya yang terlalu luar biasa untuk dianggap hanya sebagai lupa biasa.

Gangguan-gangguan yang terjadi ini tidak terjadi karena efek psikologis dari substansi seperti alkohol atau obat-obatan atau karena kondisi medis seperti demam.

Dari empat poin ini, poin nomor 3 memegang peranan sangat penting. 98 persen mereka yang mengidap DID mengalami amnesia ketika sebuah identitas muncul (switching). Ketika kepribadian utama berhasil mengambil alih kembali, ia tidak bisa mengingat apa yang telah terjadi ketika identitas sebelumnya berkuasa.

Walaupun sebagian besar psikolog telah mengakui adanya kelainan kepribadian ganda ini, namun sebagian lainnya menolak mengakui keberadaannya. Mereka mengajukan argumennya berdasarkan pada kasus Sybill yang ternama. Kasus Sybil Isabel Dorsett Salah satu kasus paling terkenal dalam hal kepribadian ganda adalah kasus yang dialami oleh Shirley Ardell Mason. Untuk menyembunyikan identitasnya, Cornelia Wilbur, sang psikolog yang menanganinya dan menulis buku mengenainya, menggunakan nama samaran Sybil Isabel Dorsett untuk menyebut Shirley. Dalam sesi terapi yang dilakukan oleh Cornelia, terungkap kalau Sybil memiliki 16 kepribadian yang berbeda, diantaranya adalah Clara, Helen, Marcia, Vanessa, Ruthi, Mike (Pria), Sid (Pria) dan lain-lain. Menurut Cornelia, 16 identitas yang muncul pada diri Sybil berasal dari trauma masa kecil akibat sering mengalami penyiksaan oleh ibunya. Kisah Sybil menjadi terkenal karena pada masa itu kelainan ini masih belum dipahami sepenuhnya. Bukunya menjadi best seller pada tahun 1973 dan sebuah film dibuat mengenainya.
Namun, pada tahun-tahun berikutnya, keabsahan kelainan yang dialami Sybil mulai dipertanyakan oleh para psikolog. Menurut Dr.Herbert Spiegel yang juga menangani Sybil, 16 identitas yang berbeda tersebut sebenarnya muncul karena teknik hipnotis yang digunakan oleh Cornelia untuk mengobatinya. Bukan hanya itu, Cornelia bahkan menggunakan Sodium Pentothal (serum kejujuran) dalam terapinya.
Dr.Spiegel percaya kalau 16 identitas tersebut diciptakan oleh Cornelia dengan menggunakan hipnotis. Ini sangat mungkin terjadi karena Sybil ternyata seorang yang sangat sugestif dan gampang dipengaruhi. Apalagi ditambah dengan obat-obatan yang jelas dapat membawa pengaruh kepada syarafnya.
Kasus ini mirip dengan penciptaan false memory dalam pengalaman alien abduction yang pernah saya posting sebelumnya. Pendapat Dr.Spiegel dikonfrimasi oleh beberapa psikolog dan peneliti lainnya.

Peter Swales, seorang penulis yang pertama kali berhasil mengetahui kalau Sybil adalah Shirley juga setuju dengan pendapat ini. Dari hasil penyelidikan intensif yang dilakukannya, ia percaya kalau penyiksaan yang dipercaya dialami oleh Sybil sesungguhnya tidak pernah terjadi. Kemungkinan, semua ingatan mengenai penyiksaan itu (yang muncul karena sesi hipnotis) sebenarnya hanyalah ingatan yang ditanamkan oleh sang terapis, Cornelia Wilbur. Jadi, bagi sebagian psikolog, DID tidak lain hanyalah sebuah false memory yang tercipta akibat pengaruh terapi hipnotis yang dilakukan oleh seorang psikolog. Tidak ada bukti kalau pengalaman traumatis bisa menciptakan banyak identitas baru di dalam diri seseorang.

Menurut Dr.Philip M Coons: "Hubungan antara penyiksaan atau trauma masa kecil dengan Multiple Personality Disorder sesungguhnya tidak pernah dipercaya sebelum kasus Sybil" Dengan kata lain, jika kasus Sybil hanyalah sebuah false memory, maka runtuhlah seluruh teori dissosiasi dalam hubungannya dengan kelainan kepribadian ganda. Ini juga berarti kalau kelainan kepribadian ganda sesungguhnya tidak pernah ada. Perdebatan ini masih terus berlanjut hingga saat ini dan saya percaya kedua pihak memiliki alsan yang sama kuat. Jika memang DID benar-benar ada dan hanya merupakan gejala psikologi biasa, mengapa masih ada hal-hal yang masih belum bisa dijelaskan oleh para psikolog?
Misteri Dalam DID Misalnya, ketika sebuah identitas muncul, perubahan biologis juga muncul di dalam tubuh sang pengidap. Kecepatan detak jantungnya bisa berubah, demikian juga suhu tubuhnya, tekanan darah dan bahkan kemampuan melihat. Lalu, identitas yang berbeda bisa memiliki reaksi yang berbeda terhadap pengobatan. Kadang, pengidap yang sehat bisa memiliki identitas yang alergi. Ketika identitas itu menguasainya, ia benar-benar akan menjadi alergi terhadap substansi tertentu.
Lalu, misteri lainnya adalah yang menyangkut kasus Billy Milligan yang dianggap sebagai kasus DID yang paling menarik. Billy adalah seorang mahasiswa yang dihukum karena memperkosa beberapa wanita. Dalam sesi pemeriksaan kejiwaan, ditemukan 24 identitas berbeda dalam dirinya. Identitas yang mengaku bertanggung jawab atas tindakan pemerkosaan itu adalah seorang wanita. Identitas lain bernama Arthur yang merupakan orang Inggris dan memiliki pengetahuan luas. Dalam interogasi, Arthur ternyata bisa mengungkapkan keahliannya dalam hal medis, padahal Billy tidak pernah mempelajari soal-soal medis. Menariknya, Arthur ternyata lancar berbahasa Arab. Bahasa ini juga tidak pernah dipelajari oleh Billy. Identitas lain bernama Regan bisa berbicara dalam bahasa Serbia Kroasia. Billy juga tidak pernah mempelajari bahasa ini. Bagaimana Billy bisa berbicara dalam semua bahasa itu jika ia tidak pernah mempelajarinya? Misteri ini belum terpecahkan hingga hari ini.
Kecuali tentu saja kalau kita menganggap Billy hanya mengalami kasus kerasukan setan dan tidak menderita DID.

Jumat, 16 September 2011

Tarbiyatul Aulad *Sekolah Cinta Rio Hu Abuna Nazwah


Syaikh Abu Hamid Al Ghazali mengatakan: “Ketahuilah, bahwa anak merupakan amanat bagi kedua orangtuanya. Hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong kepada apa saja yang disodorkan kepadanya Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan dia akan tumbuh dalam kebaikan dan berbahagialah kedua orang tuanya di dunia dari akherat, juga setiap pendidik dan gurunya. Tapi jika dibiasakan kejelekan dan dibiarkan sebagai mana binatang ternak, niscaya akan menjadi jahat dan binasa. Dosanya pun ditanggung oleh penguru dan walinya. Maka hendaklah ia memelihara mendidik dan membina serta mengajarinya akhlak yang baik, menjaganya dari teman-teman jahat, tidak membiasakannya bersenang-senang dan tidak pula menjadikannya suka kemewahan, sehingga akan menghabiskan umurnya untuk mencari hal tersebut bila dewasa.”

Subhanallah..

“Ketahuilah, bahwa anak merupakan amanat bagi kedua orangtuanya…”

Berapa banyak kita memuji anak2 kita?!! dan kapan terakhir kali kita menghargai semua usaha luar biasa anak kita?!

Kapan terakhir kali kita memujinya dengan tulus?! Tersenyum padanya dengan tulus?! Mengusap dan memeluknya dengan tulus?!!

Dan kapan terakhir kali kita marah padanya?!! Mencacinya?!! Mengasarinya?!! Tidak merasa tersentuh dengan usahanya membuat kita bangga?!

**Relakah Allah Ta’ala saat melihat amanah yang diberikan-Nya disia-siakan oleh orang yang “meminta” amanah itu?!!

“Hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong kepada apa saja yang disodorkan kepadanya Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan dia akan tumbuh dalam kebaikan dan berbahagialah kedua orang tuanya di dunia dari akherat, juga setiap pendidik dan gurunya. Tapi jika dibiasakan kejelekan dan dibiarkan sebagai mana binatang ternak, niscaya akan menjadi jahat dan binasa. Dosanya pun ditanggung oleh pengurus dan walinya”

Sedikit kita merenung: Bahwa Apa yang kita lakukan sekarang, apa yang menjadi karakter kita sekarang adalah cerminan dari pembinaan pendidikan kita sewaktu kecil…

Lalu tanpa sadar, kita terapkan kembali kepada anak-anak kita!! dan ini pun menjadi “dosa keturunan”!!

Kita seorang penakut, bahkan takut untuk mengakui kesalahan, adalah hasil dari binaan sebaktu kecil.. tengok kembali.. saat kita ingin banyak tau, orang tua kita sering menakut2i kita dengan berbagai macam hal… dan saat kita hendak mencoba sesuatu, mereka selalu mengatakan “jangan.. nanti begini..nanti begitu..” kita digembleng menjadi seorang penakut!!!

Atau ketika kita melakukan kesalahan…

mereka tidak memberikan ajaran, tapi mereka memberikan bentakan,hukuman yang kadang tidak pada porsinya!! saat kita salah, mereka marah!! sehingga saat kita melakukan kesalahan lain, kita takut untuk mengakui kesalahan itu, karena kita takut dimarahi..”pemberontakan dari belakang”.. dan ini pun menjadikan kita seperti itu sampai besar!! menjadi orang yang selalu takut mengakui kesalahan, dan melimpahkan kesalahan kepada orang lain!! bahkan kita menjadi seorang manusia yang mencari pembenaran, karena tidak mau mengakui kesalahan!!!

Sekarang, kita berdiri disini, dengan anak-anak kita menatap lugu. Pilihan kita, apakah akan mengulang dosa keturunan itu atau akan merubahnya!!

“Maka hendaklah ia memelihara mendidik dan membina serta mengajarinya akhlak yang baik, menjaganya dari teman-teman jahat, tidak membiasakannya bersenang-senang dan tidak pula menjadikannya suka kemewahan, sehingga akan menghabiskan umurnya untuk mencari hal tersebut bila dewasa.”

Hal terlucu lain yang menarik kita singgung adalah..

Ada orang tua, yang dulu dia benci sekali dengan sistem yang diterapkan keluarganya, yang membaut dia tersiksa dan menjadi pemberontak cilik.. sekarang dia bilang seperti ini..”Dulu, kakek mu, nenek mu, mendidik mama/ papa seperti ini..”..

Yang padahal dihatinya dia mengakui, bahwa dia tidak suka didikan orang tua nya… menggelitiknya!! kenapa dia sekarang lakukan cara itu ada keturunannya sendiri?!!

Jika dulu dia tidak menyukai cara itu di gunakan orang tuanya untuk mendidik dia, kenapa sekarang dia gunakan untuk anaknya?!! yang jelas2 tidak sama sekali memberikan manfaat selain mencetak mental orang2 seperti mereka yang pendendam,tidak sabaran, pemarah,pemuja harta, dst!! apa baiknya?!!

“Kamu cepat besar, sekolah, kuliah yang tinggi, lalu kerja di perusahaan yang mapan, menghasilkan uang banyak, lalu bahagiakan orang tua mu, dan buat kami bangga dengan itu”

Apakah dulu orang tua kita berbicara seperti itu pada kita sebagai anaknya?!! Lalu akan kah kita copy paste dengan kalimat itu untuk anak-anak kita?!

Menjadi orang tua yang menyekolahkan anaknya hanya agar anaknya itu menjadi buruh perusahaan. Sempit sekali bukan?!! Mereka memaknai sekolah untuk menjadi buruh, bukan untuk menjadi Tuan!! Dan mereka juga merasa bangga jika anaknya adalah orang yang ber-uang, meskipun miskin Iman!! Bahkan menggadaikan iman!!.. Mereka tidak bangga jika anaknya itu pintar mengaji, pesantren, dan faham masalah agama, toh mereka bilang jadi ustadz hanya mendapat amplop hajatan saja! Pemikiran yang sangat mudah di tebak…

Orang tua sibuk mempersiapkan dunia bagi anaknya, dan seolah lupa mempersiapkan akhirat bagi mereka!!

Untuk menghadapi dunia, mereka rela menyekolahkan anaknya sampai keluar negeri, tapi untuk menghadapi akhirat mereka bahkan tidak mengajarkan bagaimana itu shalat, membaca al Quran dan berpuasa. Miris. Padahal, dunia ini hanya beberapa tahun saja! Dan kekekalan adalah milik akhirat. Dimana konsep “Qu Anfusakum Wa ahlikum naara” kita sebagai orang tua?!

Untuk hal ini, apa kita harus me-reset perjalanan kita dari awal?!!

Me-reset masa remaja kita

Me-reset masa pencarian pasangan kita

Me-reset masa awal pernikahan kita

Me-reset masa kesiapan dan kehamilan kita?!

Ternyata semua alur kehidupan kita saling berkait dan itu sangat penting. Medidik seorang anak yang shaleh bukanlah dengan system feudal yang biasa kita dapatkan dulu dari orang tua. Islam mengajarkan Tarbiyatul Aulad dengan sangat baik, dan Rosulillah mencontohkannya dengan sempurna bagaimana membangun sekolah cinta di dalam rumah, sehingga mampu mencetak anak didik yang luar biasa, yakni anak yang shaleh dan shalehah!!

Anak selain sebagai penerus keturunan,yang utamanya anak adalah investasi di masa yang akan datang. Do’a anak yang shaleh adalah pahala yang akan terus mengalir tanpa henti. Dia akan menembus langit dan akhirnya sampai kepada kita sebagai orang tua sebelum ataupun sesudah kita meninggal.

Memiliki anak yang shaleh dan shalehah bukanlah angan-angan. Dan mereka bukanlah di dapat dari keturunan semata namun kita sebagai orang tau dapat mencetaknya, mewujudkannya. Ia akan hadir di tengah-tengah kita tiada lain merupakan buah dari usaha yang kita lakukan dalam mendidiknya. Bila kita berkeinginan dan berusaha keras mendidik anak agar menjadi anak yang shaleh, maka ia akan tumbuh sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tetapi jika tidak, keinginan untuk memiliki anak shaleh hanyalah sebuah angan-angan dan hayalan semata.

Bercermin dari sekolah cinta yang di bangun Rosulillah didalam rumahnya, ini bisa menjadi jalan kita untuk membuktikan jargon “membentuk generasi Rabbani”.. bagaimanakah Tarbiayul Aulad yang ada dalam Islam itu?

Pertama adalah dengan Keteladanan. Keluarga, khususnya orang tua adalah figur awal bagi seorang anak untuk diikuti dan dicontoh perilakunya. Ketika anak mulai beranjak remaja, fungsi ini mulai bergeser kepada kelompok sebaya-nya ataupun figur-figur lain di luar keluarga, seperti tokoh-tokoh dalam film atau cerita. Oleh karena itu, sudah seharusnya orang tua dapat memberikan pondasi awal yang kuat tentang sikap dan perilaku yang positif. Dengan demikian kelak ketika anak dihadapkan kepada situasi yang sangat kompleks, anak akan lebih siap dan konsisten terhadap pendiriannya.

Agar tujuan ini terwujud, maka tentunya harus ada keteladanan dari orang tua. Ingatlah suatu perbuatan orang tua tidak akan efektif bila hanya terjadi komunikasi satu arah. Berilah contoh yang kepada anak mengenai perilaku yang baik dari orang tua mereka sehari-hari. Ini bisa dimulai dengan hal-hal yang biasa sehari-hari kita lakukan di rumah. Dengan begitu, kedepan diharapkan anak akan dapat mulai sedikit demi sedikit mencontoh perilaku yang positif dari orang tuanya.

Yang kedua adalah Pembiasaan. Setelah adanya contoh yang baik dari orang tua, maka perlu dilakukan pembiasaan dari perilaku-perilaku yang telah dilakukan tadi. Hal ini penting karena dihawatirkan bila orang tua saat tak ada disisi mereka, perilaku-perilaku yang anak lakukan akan dapat berubah kembali. Dengan adanya pembiasaan, maka perilaku positif tersebut akan menjadi tabiat positif anak sehingga ada atau tidak ada orang tua, hal-hal positif tetap mereka lakukan.

Yang ketiga adalah Nasihat.Dikala proses diatas berlangsung, orang tua juga harus senantiasa memberikan pengertian-pengertian ataupun pemahaman-pemahaman kepada anak mengapa suatu perilaku itu harus dilakukan, apa manfaatnya, baik untuk diri sendiri dan yang terpenting untuk orang lain.

Yang ke empat adalah Kontrol. Setelah langkah-langkah di atas berjalan dengan baik, maka selanjutnya adalah kontrol dari orang tua. Dalam pelaksanaannya, kontrol yang dilakukan mesti dijalankan secara arif dan bijaksana, tidak dengan membuat posisi anak menjadi tersudut, sehingga kontrol justru tidak menjadi efektif.

Yang terakhir adalah Reward and Punishment. Di samping poin-poin di atas, tips kelima ini juga tak kalah pentingnya untuk menumbuhkan minat dan tanggung jawab pada anak.Banyak sekali bentuk reward, bisa dengan cara apa pun, sebagai apresiasi kita kepada suatu tindakan yang baik dari seseorang, terlebih anak-anak. dan diantara reward yang memiliki dampak luar biasa itu adalah…

Reward dengan Lisan, yakni PUJIAN. Satu hal yang kadang susah untuk kita lakukan. Namun sebenarnya sangat memiliki daya ubah luar biasa bagi siapa pun yang menerimanya. Pujian memiliki kekuatan positif yang menakjubkan.Kadang kita melihat apa yang dilakukan oleh anak kita, kita pandang dengan kaca mata kita sebagai orang yang sudah ‘besar’..sehingga apa pun yang di lakukan oleh anak kita tampak biasa-biasa saja, bahwa mudah bagi kita untuk melakukan yang mereka bisa tersebut. Nah disini, letak yang harus di gesernya, bahwa jangna memandang apa yang anak-anak kita lakukan dengan kacamata kita sebagai orang yang lebih mampu melakukannya, tapi pandang dari kaca mata jika kita seperti mereka, maka melakukan sesuatu yang baru dan menyelesaikannya dengan baik itu adalah hal yang luar biasa!! sehingga yang akan terjadi adalah sebuah pujian kekaguman yang tulus.

**sebagai orang tua, kumpulkan dari sekarang point pujian anda pada anak2 anda, jangan sampai kurang.. hargai apa pun yang anak ada lakukan, dan berilah solusi yang yang membangun dengan cara yang baik.. tak ada salahnya menjadi teman lab,sahabat ngeceng,karib mengaji,guru sekolah, ustadz rumah, plus bodyguard yang menyenangkan!!

Hal yang kedua dari point terakhir sebagai aksi orang tua terhadap tingkah laku anaknya adalah, hukuman.

Namun dari pada itu, sebelumnya harus dingat oleh para orang tua bahwa pemberian hukuman kepada anak dimaksudkan untuk mendidik anak bukan untuk menyudutkan apalagi melukai fisik.Hukuman yang diberikan tidak hanya semata-mata berbentuk fisik, tetapi juga bisa dilakukan hal-hal lain seperti dengan pengurangan hak, atau pemberian suatu tugas tambahan. Andaikata hukuman fisik terpaksa diberikan, maka harus diperhatikan bahwa cubitan kecil ataupun pukulan ringan bisa bisa diberikan dengan syarat: tidak boleh di bagian-bagian vital anak, tidak boleh pada bagian atas tubuh(perut, dada, leher, kepala, punggung) dan tidak boleh meninggalkan bekas..

Inilah tarbiyatul aulad dalam Islam.

Semoga bermanfaat bagi siapapun yang telah memiliki anak, dan yang akan memiliki “anak”..

Jadikalah cinta yang ada di hati anak-anak kita adalah cinta yang disertai akhlak mulia yang baik dan utama yang lahir dari didikan seorang yang berakhlak mulia pula, dengan cara-cara yang ahsan.

Allahu A’lam

Terinspirasi oleh: Seorang wanita yang siap menjadi seorang ibu muda dengan Ilmu yang dimilikinya, dan pengajar yang mendedikasikan dirinya hanya untuk mendidik generasi muda, anak-anak menjadi generasi terbaik!!

Sumber bacaan:

Dr. Nizar Abazhah.Sekolah Cinta Rosulillah. Zaman. Jakarta. 2009.

Kamis, 15 September 2011

MENDIDIK ANAK DENGAN HATI Rio Hu Abuna Nazwah


“ Hai orang-orang yang beriman berdzikirlah ( dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya “. (QS.Al-Ahzab: 41)
“ perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berzikir kepada-Nya, seperti orang hidup dan mati “. ( HR.Al-Bukhari )
Potongan ayat dan kutipan hadits diatas bukanlah tanpa sebab saya tuliskan, namun dimaksud untuk mengingatkan bahwa setiap jengkal dari apa yang kita lakukan mulai dari bangun tidur sampai kita tidur kembali, hendaklah dilakukan dengan berdzikr dan diniatkan karena Allah aza wa Jalah. Dengan mengingat ( Dzikir ) Allah maka semua urusan kita insya Allah akan dimudahkan. Begitu juga kaitannya dengan mendidik.
Mendidik merupakan sunahtullah yang harus kita jalani, baik mendidik anak sendiri, mendidik murid, maupun mendidik diri kita sendiri. Mendidik anak dengan hati merupakan keniscayaan yang pasti, dimana seorang guru harus menselaraskan antara hati dan intelektualnya, ini yang dinamakan oleh para pakar ilmu psikologi sebagai emosional inteligent dan inteligent quetion.
Keberhasilan dalam mendidik, khususnya di Sekolah maupun dirumah tidak hanya ditentukan oleh kemahiran guru/ orangtua dalam mengajar. Namun lebih kepada bagaimana ia mendidik para siswanya/ anaknya. Jadi sangat mungkin bila dalam mendidik anak, seorang guru mampu memadukan antara kecerdasan emosi dan kecerdasan intelektualnya.
Tugas guru amatlah berat, kendati harus mengajar bagaimana sebuah rumus bisa seperti itu atau bagaimana sebuah bilangan dapat dikalikan dengan kombinasi-kombinasinya, juga menjelaskan apa yang dimaksudkan dengan fotosintesis dari tumbuhan serta membuat suatu tugas diskusi kelompok tentang sebuah organisasi-organisasi yang ada baik di masyarakat, lingkungan sekolah, sampai kepada tingkat atas yakni Negara. Tugas guru juga mendidik murid-muridnya agar dapat menjadi anak-anak yang berakhlakul kharima. Kegiatan mendidik lebih kepada proses bagaimana menyadarkan peserta didik dapat mengubah dirinya menjadi manusia seutuhnya, baik secara intelektual, spiritual, moral dan sosial. Penyadaran itu tidak bisa dilakukan melalui pengajaran saja, tetapi terutama lewat pendidikan di mana prinsip keteladanan dari sang guru diberlakukan. Tanpa sebuah keteladanan (melalui kata maupun tindakan) yang baik, seorang siswa yang nakal akan tetap menjadi nakal, bahkan mungkin akan semakin nakal.
Guru yang baik adalah seseorang yang bisa mengajar sekaligus bisa mendidik para siswanya. Dengan kemampuannya untuk mengajar dan mendidik secara baik, akan dihasilkan anak-anak yang tidak hanya pandai secara intelektual, namun juga secara akhlak dan keimanan. Pada akhirnya akan menghasilkan generasi penerus yang arif dan bijaksana. Berkaitan dengan pembentukan kepribadian anak didik, maka “Mendidik Anak Dengan Hati” juga harus merupakan usaha untuk memberikan motivasi kepada anak didik agar terjadi proses internalisasi nilai-nilai pada dirinya, sehingga akan lahir suatu sikap yang rabbani.
Metode mendidik anak sepatutnya mencontoh Tauladan kita yakni Rasulullah SAW. Yang sebelumnya menggunakan bahasa perintah, larangan dan ancaman dalam memberikan nasehat menjadi bahasa yang baik, santun dan menyejukkan yaitu bahasa hati. Merujuk Qur’an surat An Nahl (16) ayat 125, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…,” Sampaikan nasehat pada saat yang benar-benar tepat, bukan pada saat anak melakukan kesalahan dan kita sedang dikuasai amarah. Ketika anak melakukan kesalahan cukuplah dengan membantunya memperbaiki kesalahannya. Adapun waktu yang tepat dalam menyampaikan nasehat adalah saat kondisi atau emosi anak sedang stabil.
Mendidik merupakan amal ibadah yang mendapatkan pahala disisi Allah SWT, jadikan kegiatan mendidik sebagai suatu kegiatan yang disenangi dan menyenangi. Jangan jadikan profesi ini sebagai beban yang melelahkan. Lepaskanlah beban yang ada dipundak, tersenyumlah manakalah pedih itu datang, gembiralah tatkalah gundah-gulanda mengelayuti seluruh jiwa kita. Hadapi masa depan yang cemerlang, karena hanya guru atau orangtua yang berjiwa satria akan mendapati murid-muridnya ataupun anak-anaknya menjadi jiwa-jiwa Satria juga. Mereka tidak akan pantang menyerah, dan akan selalu berusaha menapaki kehidupan ini dengan penuh optimis, karena mereka selalu mentauladani para pendidiknya yang berjiwa kesatria ....
Seperti firman Allah: “Barang siapa menghendaki kesenangan dunia (dengan amalnya), maka Kamipun memenuhinya di dunia, apa yang Kami kehendaki bagi keinginannya, kemudian Kami masukkan dia ke neraka, keadaannya sangat hina dan terusir ( jauh dari rahmadNya)”. (Al-Isra-k 18), “Dan barang siapa menghendaki kesenangan di akherat (dari pahala amalnya) degan sepenuh hati melakukannya secra ikhlas dan beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya diterima (amalnya memperoleh pahala)”. (Al-Isra-k 19).
“Didiklah anak-anak kalian pada tiga hal: mencintai Nabi, mencintai keluarganya, dan membaca Al-Quran”. (HR. Thabrani). Mari kita mulai mendidik anak dengan hati. Satukan hati kita dan anak didik kita dengan menulis surat yang berisi pesan dan nasehat kebaikan. Insya Allah ini merupakan metode yang menyenangkan serta menarik dan berkesan bagi orangtua ataupun pendidik dan anak. Tanyakan apa yang menjadi keluhan mereka, berilah dukungan moril atas kesuksesan dan kekalahan mereka.....
J I K A A N A K …
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah
Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar kedengkian
Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai
Jika anak dibesarkan dengan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri
Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan
Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran

Jakarta, 19 Mei 2011


Rio Hu Abuna Nazwah
Mr_Sundang@yahoo.com. 021-93293309/ 082113422965