Selasa, 13 April 2010




Definisi Cinta

1. Cinta berarti bahwa aku mengetahui orang yang aku cintai. Aku menyadari demikian banyak faset dirinya, bukan cuma sisi baiknya saja, akan tetapi juga keterbatasan, inkonsistensi, dan kelemahan-kelemahannya. Aku menyadari perasaan-perasaan dan pikiran-pikirannya, dan aku mengalami sesuatu yang menjadi inti dirinya. Aku bisa menyelinap ke balik topeng-topeng sosial dan peran yang dijalaninya serta melihat dirinya pada tingkat yang lebih dalam.
2. Cinta berarti aku peduli pada kesejahteraan orang yang aku cintai. Dalam ketulusanku-kepedulianku, bukan untuk menekannya atau mengikatnya seperti benda yang kumiliki. Sebaliknya, kepedulianku membebaskan kami berdua. Bila aku peduli padamu, (artinya) aku peduli pada pertumbuhanmu, dan aku berharap semoga engkau menjadi apapun yang engkau inginkan. Konsekuensinya, aku tidak akan meletakkan batu ganjalan untuk hal-hal yang dengannya engkau meningkatkan diri sebagai pribadi. Sekalipun untuk itu aku harus merasakan ketidaknyamanan dalam menjalani waktu.
3. Cinta berarti memiliki rasa hormat terhadap harga diri orang yang aku cintai. Bila aku mencintaimu, aku dapat melihatmu sebagai seseorang yang terpisah dariku, dengan nilai-nilaimu, dengan pikiran-pikiranmu, dan dengan perasaan-perasaanmu. Aku tidak memaksamu untuk menyerahkan identitasmu, menyesuaikannya pada citra yang kuharap kau tunjukkan. Aku dapat mengizinkan dan mendorongmu untuk berdiri dan menjadi dirimu sendiri, dan menghindari memperlakukanmu sebagai objek, atau menggunakanmu sebagai pemuas kebutuhan-kebutuhanku.
4. Cinta berarti memiliki tanggung jawab terhadap orang yang aku cintai. Bila aku mencintaimu, aku responsif terhadap kebutuhan-kebutuhanmu sebagai satu pribadi. Tanggung jawab ini tidak mengikatku untuk melakukan apa-apa yang dapat engkau lakukan sendiri, bukan pula berarti aku menjalai hidupmu untukmu. Ia hanyalah cara untuk menyadarkanku akan siapa diriku dan apa yang aku lakukan untukmu. Dengan cara itulah aku terlibat dalam kebahagiaan dan kesulitanmu. Seseorang kekasih dapat saja melukai dan mengecewakan orang yang dicintainya. Dan dalam hal ini, aku menyadari bahwa cinta membutuhkan kesediaan menerima tanggung jawab dari apa yang telah kulakukan terhadapmu.
5. Cinta berarti tumbuh bagiku bersama orang yang kucintai. Bila aku mencintaimu, aku menjadi tumbuh bersama cintaku. Engkau menjadi stimulan bagiku untul lebih memenuhi keinginanku, mewujudkan diriku yang kuinginkan. Demikian pula, cintaku akan meningkatkan dirimu. Masing-masing tumbuh karena kepedulian kita dan karena kita dipedulikan. Masing-masing kita berbagi untuk memperkaya pengalaman yang tidak merusak diri kita. Buscaglia (1992) menggambarkan ide ini dengan baik ketika menuliskan : “Kita bukan hanya harus menghormati kebutuhan bagi pertumbuhan kekasih kita. Kita harus mendorongnya, sekalipun dengan resiko kehilangan dia. Kelihatannya memang ironis, tapi begitulah yang sebenarnya. Bahwa hanya melalui pertumbuhan yang terpisahlah akan ada harapan bagi tiap-tiap orang untuk tumbuh bersama-sama.”
6. Cinta berarti dihilangkannya rasa takut. Jampolsky (1981) menegaskan bahwa rasa takut akan kesalahan masa lalu dan ketakutan masa depan hanya menyediakan sedikit ruang bagi dinikmatinya dan dihayatinya masa kini serta masa yang akan datang. Tidak menilai orang lain adalah satu cara bagaimana aku bisa membebaskan diri dari rasa takut dan mengalami cinta. Penerimaan berarti aku tidak memusatkan diri untuk mengubah orang lain agar mereka menyesuaikan diri pada harapan-harapanku.
7. Cinta berarti membuat komitmen pada orang yang aku cintai. Komitmen ini tidak berarti penyerahan masing-masing diri secara total. Bukan pula berarti bahwa hubungan yang ada harus permanen. Maknanya adalah bahwa komitmen itu mengandung keinginan untuk selalu bersama-sama di saat-saat pedih, saat-saat sulit, saat-saat perjuangan, dan saat-saat kesedihan, sebagaimana (keinginan untuk) tetap bersama dalam ketenangan dan kebahagiaan.
8. Cinta berarti bahwa aku mungkin terluka. Bila aku membuka diri karena percaya padamu, aku mungkin mengalami luka, penolakan, atau kehilangan. Cinta melibatkan saling berbagi, saling mengalami dengan orang yang aku cintai. Cintaku padamu berarti bahwa aku ingin menghabiskan waktu bersamamu dan berbagi aspek-aspek hidupmu yang bermakna bersamamu. Cinta juga berarti bahwa aku ingin berbagi sisi-sisi hidupku yang penting bersamamu.
9. Cinta berarti mempercayai orang yang aku cintai. Bila aku mencintaimu, aku percaya engkau akan menerima kepedulian cintaku dan bahwa engkau tidak akan melukaiku dengan sengaja. Aku percaya bahwa engkau akan melihatku sebagai seseorang yang layak untuk dicintai. Dan (aku percaya) bahwa engkau tidak akan mengabaikanku. Aku percaya bahwa cinta kita secara hakiki saling berbalas. Bila kita saling percaya, kita ingin terbuka satu sama lain. (Bila kita saling percaya) kita akan dapat melepaskan segala topeng dan kecurigaan kita, dan mengungkapkan diri kita yang sebenarnya.
10. Cinta dapat mentoleransi ketidaksempurnaan. Dalam sebuah hubungan cinta, ada saat-saat bosan, saat ketika rasanya aku ingin menyerah saja, saat-saat sulit yang sungguh-sungguh, dan saat-saat aku mengalami ketiadaan manfaat apa-apa. Cinta yang otentik tidak berarti kebahagiaan yang terus-menerus. Aku bisa bertahan di saat-saat sulit, karena aku bisa mengingat apa-apa yang sama-sama pernah kita miliki di masa lalu. Dan bahwa aku bisa membayangkan apa yang akan kita dapatkan di masa depan seandainya kita cukup berani menghadapi masalah-masalah kita dan memecahkannya bersama-sama.
11. Cinta itu membebaskan. Cinta diberikan secara bebas. Tidak diserahkan karena permintaan. Pada saat yang sama, cintaku padamu tidak bergantung pada apakah engkau memenuhi harapan-harapanku. Cinta sejati tidak berarti, “Aku mencintaimu karena engkau sempurna.” Atau “...ketika engkau menjadi seperti yang aku harapkan.” Cinta yang otentik tidak diberikan dengan rantai pengikat. Ada kualitas tanpa syarat dalam cinta.
12. Cinta itu meluas. Bila aku mencintaimu, aku mendorongmu untuk membentuk dan mengembangkan hubungan-hubungan lain. Sekalipun hidup kita untuk satu sama lain dan komitmen kita berdua menjadi inti dari apa yang kita lakukan, tetapi kita satu sama lain tidak terikat secara total dan eksklusif. Hanya cinta palsulah yang memasung seseorang dengan seseorang yang lain. Demikian dekatnya hingga tidak memberikan ruang untuk tumbuh. Casey dan Vanceburg (1985) menyebutkan ini : “Bukti yang jujur dari cinta kita adalah komitmen untuk mendorong pengembangan diri masing-masing secara penuh. Kita adalah pribadi-pribadi yang interdependen yang membutuhkan kehadiran (sesuatu) yang lain untuk memenuhi takdir kita. Sekalipun demikian, kita juga individu yang terpisah. Kita harus berjuang atas nama kita sendiri.”



13. Cinta berarti memiliki satu keinginan terhadap orang yang aku cintai tanpa memiliki tuntutan yang harus dipenuhinya. Bila aku bukan apa-apa tanpamu, maka aku tidak akan sungguh-sungguh bebas mencintaimu. Bila aku mencintaimu dan engkau meninggalkanku, aku akan merasakan kehilangan dan kesedihan. Tapi aku masih mampu untuk hidup. Bila aku terlalu bergantung padamu untuk makna dan kehidupanku, aku tidak akan bebas menguji hubungan kita. Juga tidak bebas untuk memberimu tantangan dan berbeda darimu. Karena rasa takutku kehilanganmu, aku akan berdiam ketika menerima apa yang tak kuinginkan. Dan ini tentu menimbulkan perasaan kecewa.
14. Cinta itu mengidentifikasikan diri dengan orang yang aku cintai. Bila aku mencintaimu, aku bisa berempati padamu dan melihat dunia melalui matamu. Aku mengidentifikasikan diri padamu karena aku bisa melihat diriku di dalam dirimu dan dirimu di dalam diriku. Kedekatan ini tidak berarti sebuah “kebersamaan” yang terus-menerus, karena jarak dan keterpisahan seringkali esensial dalam hubungan cinta. Jarak dapat memperkuat ikatan cinta. Ia akan membantu kita menemukan kembali diri kita, sehingga kita dapat bertemu lagi dalam sebuah cara yang baru.
15. Cinta itu selfish. Aku hanya bisa mencintai dirimu bila aku secara tulus mencintai, menilai, menghargai, dan menghormati diriku sendiri. Bila aku kosong, maka yang dapat kuberikan padamu adalah kekosonganku. Bila aku merasa diriku utuh dan berharga, aku akan mampu memberikan padamu dari apa yang telah kumiliki. Satu cara terbaik untuk memberimu cinta adalah dengan sepenuh-penuhnya menikmati kebersamaanku denganmu.
16. Cinta melibatkan kemampuan melihat potensi di dalam diri orang yang aku cintai. Bila aku mencintaimu, aku bisa melihatmu sebagaimana diri yang engkau inginkan, sementara aku tetap dapat menerima dirimu saat ini. Pengamatan Goethe menjadi relevan dalam hal ini, dengan menghadapi orang sebagaimana adanya, kita membuat mereka menjadi lebih buruk. Tetapi, dengan memperlakukan mereka seolah-olah mereka telah seperti orang yang mereka inginkan, kita membantu mereka menjadi orang yang lebih baik.
17. Cinta berarti membuang ilusi tentang penguasaan penuh akan diri kita, orang lain, dan sekeliling kita. Semakin aku berusaha mengontrol secara penuh, semakin tidak terkontrollah diriku. Cintai berarti penyerahan kontrol dan terbuka terhadap peristiwa-peristiwa hidup. Cinta berarti kapasitas untuk dikejutkan. Menghadirkan kejutan ke dalam cinta, kata Buscaglia (1992), adalah cara untuk terus menghidupkan hubungan : “Cinta mati karena bisa diramalkan. Esensinya yang tertinggi adalah kejutan dan kekaguman. Membuat cinta menjadi tahanan hidup keseharian berarti membuang kegairahannya dan membuat ia hilang selamanya.”
18. Kita menutup diskusi tentang makna cinta sejati ini dengan berbagi ide dari buku The Art of Loving karya Erich Fromm yang mengatakan bahwa cinta yang matang menyimpulkan esensi cinta sejati dengan amat baik : “Cinta yang matang adalah kesatuan dalam keadaan yang menjaga integritas tiap orang, individualitas masing-masing. Dalam cintalah paradoks ini terjadi, bahwa ketika dua manusia menjadi satu mereka tetaplah dua.”



Diterjemahkan oleh Nashrullah Azfa Manik dari Corey&Corey

I Never Knew I Had a Choice, 1997. Hlmn. 250-an

Diedit seperlunya oleh Andito.

Senin, 22 Maret 2010

Budaya Baca Indonesia Terendah di Asia Timur



KOMPAS/AUFRIDA WISMI WARASTRI

Bocah-bocah membaca buku di ruang anak-anak Perpustakaan Daerah Sumatera Utara, Kamis (6/11). Meskipun sempit, tempat ini diminati anak-anak untuk membaca aneka buku yang bermutu.

/

Kamis, 18 Juni 2009 | 02:59 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com--Budaya baca masyarakat Indonesia menempati posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur berdasarkan data yang dilansir Organisasi Pengembangan Kerja sama Ekonomi (OECD), kata Kepala Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya Arini.

Saat berbicara dalam seminar "Libraries and Democracy" digelar Perpustakaan Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya bersama Goethe-Institut Indonesien dan Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII) di Surabaya, Rabu, dia mengatakan, OECD juga mencatat 34,5 persen masyarakat Indonesia masih buta huruf.

"Karena itu, pengembangan minat baca merupakan solusi yang tepat, apalagi anak SD yang dibiasakan dengan budaya baca dan tulis memiliki prestasi tinggi dibanding anak SD yang selama enam tahun tidak dibiasakan dengan budaya baca dan tulis," katanya dalam seminar yang juga menampilkan pakar perpustakaan dari Jerman Prof Dr Phil Hermann Rosch itu.

Menurut dia, pembiasaan membaca dan menulis itu harus dilakukan dengan program pemaksaan pinjam buku di perpustakaan, lalu diberi tugas membuat kesimpulan dari buku yang dipinjam.

"SD swasta yang melaksanakan hal itu umumnya memiliki prestasi yang sangat memuaskan dibandingkan sekolah negeri yang belum memiliki kebiasaan itu," katanya.

Oleh karena itu, katanya, Perpustakaan Kota Surabaya mengembangkan program ke arah sana, di antaranya membuka perpustakaan selama tujuh hari dalam seminggu.

"Kami juga mengembangkan program pembinaan perpustakaan yang ada dengan pengadaan 157.095 buku setiap tahunnya, sekaligus melatih pustakawan yang ada," katanya.

Program lain yang sangat penting adalah pengembangan "Sudut Baca" di berbagai kawasan publik seperti puskesmas, balai kelurahan, perkantoran, perusahaan, dan pusat-pusat keramaian.

"Karena itu, kami merancang rancangan peraturan daerah untuk penyediaan fasilitas sudut baca di berbagai lokasi layanan publik di Surabaya," katanya.

Senada dengan itu, pakar perpustakaan dari Jerman Hermann Rosch menyatakan, perpustakaan itu menunjang pembelajaran sepanjang hidup, pengembangan pandangan yang tak muncul di permukaan, dan mendukung transparansi.

"Perpustakaan itu tidak hanya berfungsi pendidikan, tapi juga sosial, politik, dan informasi. Fungsi sosial terkait dengan pengembangan emansipasi, sedangkan fungsi politik terkait dengan kompetisi ide dan transparansi. Untuk fungsi informasi terkait dengan upaya mendorong keterbukaan dalam masyarakat," katanya.

Sumber: Kompas http://oase. kompas.com/ read/xml/ 2009/06/18/ 02590466/ budaya.baca. indonesia. terendah. di.asia.timur

FATWA HARAM MEROKOK ?


Dewasa ini banyak dibicarakan dan dibahas tentang Fatwa Haram Merokok yang dikeluarkan oleh MUI. Ada yang pro pada fatwa tersebut dan juga ada yang kontra pada fatwa tersebut. Kita pasti tau siapa yang pro dan siapa yang kontra. Beberapa hari yang lalu saya coba meminta rokok teman mengajar saya di Madrasah Ibtidiyah, dan ia langsung memberi saya sebatang rokok dengan merek Dji sam Soe. Setelah saya bakar dan saya hisap betapa peningnya kepala saya, tiga hari pening tidak hilang-hilang. Namun ada baiknya kita renungkan puisi yang yang diciptakan oleh Bapak Sastra kita Taufik Ismail.

Tuhan 9 Centi
Oleh Taufik Ismail


Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara- perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam surga sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok, (hehe....)

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita...

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS.

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena..

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
di dalam lift gedung 15 tingkat,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- naĆ¢€™im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita....

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah orang terhormat
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia,
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.

Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk..

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba

Pada saat sajak ini dibaca, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara
kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini...



Masihkan kita berpikir bahwa banyak yang dapat diambil manfaatnya dari sebatang rokok yang hanya sembilan inci panjangnya?